Tanggal Posting

October 2021
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Aktifitas


Cerita-Cerita

HARI PERTAMA SEKOLAH

Melissa dan Melinda adalah anak kembar. Meskipun kembar, mereka berdua mempunyai kegemaran dan sifat berbeda. Melissa lebih periang, lebih mudah marah, dan suka bermain basket. Sedangkan Melinda, dia lebih kalem, tidak suka berdebat, dan suka bermain bulu tangkis serta berenang. Mereka berdua beserta keluarganya, yaitu orangtuanya dan kakaknya, Kak Ina, baru saja pindah ke Depok.

Baru saja tinggal 1 hari di rumah, Melissa dan Melinda sudah di sekolahkan oleh orangtuanya di SD Tunas Bangsa 2 di dekat rumahnya. Melissa dan Melinda akhirnya menyiapkan tas sekolah dan seragamnya untuk sekolah besok.

Besoknya, Si Kembar bersiap-siap pergi ke sekolah. Mereka berangkat dengan berjalan kaki karena sekolahnya dekat.

“Eh, ini kan sekolah kita? Tulisannya sih SDN Tunas Bangsa 2….,” tanya Melissa ragu.

“Ya, iyalah… Tulisannya saja begitu. Eh, yuk, kita masuk, kata ayah-ibu, kita masuk kelas 4-B…,” jawab Melinda sambil mengajak Melissa masuk.

“Eh, yuk!” jawab Melissa, ”hmm… kelas 3-A, 3-B…., Nah, kelas 4-B!”

“Hei Melinda! Jangan bengong terus! Ayo kita masuk!” seru Melissa. Melinda hanya tersenyum.

Tok..Tok.. Melissa mengetuk pintu kelas 4-B. Krekk… pintu terbuka. Tampak seorang ibu guru berdiri di depan pintu.

“Ya, ada perlu apa ya?” tanya guru itu ramah.

“Eh, kami Melissa dan Melinda, murid baru di sekolah ini, kata orangtua kami, kami masuk kelas 4-B,” jawab Melissa ragu-ragu.

“Oh, ya, silakan masuk, Melissa dan Melinda!” kata guru itu lagi, ”Anak-anak, seperti yang sudah ibu katakan kemarin, sekarang di kelas kita ada murid baru, namanya Melissa dan Melinda, ayo, Melissa, Melinda, perkenalkan diri kalian,” kata guru itu.

“Eh, perkenalkan, namaku Melissa Putri Salsabila, biasa dipanggil Melissa. Umurku 10 tahun, aku tinggal di Perumahan Bumi Asri, Jalan Mangga nomor 10,” kata Melissa agak gugup.

Perkenalkan, namaku Melinda Putri Salsabila, biasa dipanggil Melinda. Aku kembaran Melissa. Umurku 10 tahun, aku tinggal serumah dengan Melissa,” kata Melinda yang tidak terlihat gugup.

“Ya, Melissa dan Melinda, kalian bisa duduk di meja kosong di pojok kelas itu,” tunjuk guru yang ternyata bernama Bu Erna itu. “I…Iya Bu Erna,” jawab Melinda.

“Oh, ya, anak-anak, sekarang belum bel masuk sekolah, jadi kalian bebas bermain dulu,” kata Bu Erna pada murid-muridnya. Semua anak berhamburan ke luar kelas. Ada juga yang mengerubungi meja Melissa dan Melinda. Nggak banyak sih, tetapi Si Kembar sudah mempunyai teman, yaitu Rina, Nida, Ana, Hafizah (Yang biasa dipanggil Fizah), dan Velicia. Velicia juga murid baru yang pindah dari Inggris, tetapi, dia enggak sombong, kok…

“Eh, Melissa, Melinda, kalian kok diam aja sih? Marah, ya?” tanya Rina.

“Iya, nih! Two Mell nggak seru, nih!” sahut Ana. Two Mell adalah panggilan baru untuk Melissa dan Melinda.

“Eh, nggak kok, nggak apa-apa,” jawab Melissa.

Maklum…. Anak baru…!” kata Nida dan Fizah berbarengan.

“Ooh… Pantas saja ya, dari tadi Velicia diam terus, dia kan juga anak baru….,” kata Rina membuat Velicia marah.

“Grr…… awas kamu ya, Riinnaaaa……!!” Velicia mengejar-ngejar Rina.

“Ampuuunnnn…!!!” kata Rina sambil berusaha menghindari kejaran Velicia.

“Udah, ah, tuh dua anak berantem terus,” kata Fizah.

“Hahaha…..,” Two Mell, Ana, Nida, dan Fizah tertawa melihat tingkah laku Rina dan Velicia.

Kriingg…. Bel masuk sekolah pun berbunyi. Semua anak segera duduk di tempatnya dan diam. Rizky, ketua kelasnya segera memimpin doa. Sekarang, mereka belajar Bahasa Inggris lalu IPS.

“Wah… lumayan susah nih, soal-soalnya, Linda!” Melissa berbisik pada Melinda.

“Jangan bilang susah dulu! Dicoba dulu, dong!” jawab Melinda juga berbisik.

Setelah tugas dikumpulkan, akhirnya saatnya istirahat. Mereka sudah mengerjakan soal yang dianggap susah itu.

“Hei, Velicia! Kamu pasti dapat 100 deh Bahasa Inggrisnya! Kamu kan baru pindah dari Inggris,” Ana membuka pembicaraan.

“Ah, nggak juga kok! Kan kita belum lihat,” jawab Velicia malu-malu karena dipuji.

“Eh, oh ya Fizah, kamu kan jago tuh IPS nya, pasti kamu 100 deh, kalo nggak 90-an..,” kata Nida.

“Wah, nggak tuh Nid! Kamu juga kan jago IPS..,” jawab Fizah.

“Sudah ah! Jangan berantem! Gitu aja berantem,” canda Ana.

“Eh, siapa bilang kita berantem? Kita kan lagi ‘puji-pujian’…,” canda Nida.

“Eh, friends! Itu bangunan apa sih?” tanya Melissa pada teman-temannya sambil mengalihkan pembicaraan. Dia mengalihkan pembicaraan karena dia tidak terlalu suka pada pelajaran Bahasa Inggris dan IPS. Melissa lebih suka pelajaran Matematika dan IPA.

“Oh, itu, katanya mau dibangun ____ di sekolah kita, tapi kalau nggak jadi, ya, jadi tempat bermain ‘indoor ’ untuk anak-anak,” jawab Rina.

“Wah, seru tuh! Kalau kalian, maunya ____ atau tempat bermain indoor ?” sahut Ana sambil bertanya.

“Aku sih, terserah aja,” jawab Two Mell.

“Kalau aku juga sama kaya Two Mell,” jawab Velicia.

“Aku, hmm… mungkin ____,” jawab Rina.

“Aku sama kaya Rina,” jawab Nida.

“Aku tempat bermain indoor…,” jawab Fizah.

“Kalau kamu?” tanya Nida pada Ana.

“Aku… ____,” jawab Ana.

Kriingg… Bel masuk istirahat berbunyi. Semua anak berhamburan masuk ke dalam kelas. Semua anak menyiapkan buku Bahasa Indonesia mereka. Mereka menunggu kedatangan Bu Neti, guru Bahasa Indonesia mereka. Setelah pelajaran Bahasa Indonesia, ada pelajaran Matematika kesukaan Melissa.

Sepulang sekolah………

“Hei! Tadi seru kan, Matematika-nya?” Melissa bertanya pada temannya.

“Yah, lumayan sih…,” jawab Rina.

“Aku mah nggak jago Matematika-nya..,” kata Velicia.

“Aku juga lumayan bisa,” kata Melinda.

“Jadi, siapa nih yang jago Matematika? tanya Melissa.

“Tuh! Si jago Metematika..,” tunjuk Rina pada Nida.

“Ehh.. Siapa bilang?” kata Nida malu.

“Aku tadi bilang..,” kata Rina menunjuk dirinya sendiri.

“Hahahaha…..,” mereka semua tertawa mendengar lelucon Rina.

Setelah sampai di gerbang sekolah, akhirnya anak-anak itu berpisah. Mereka pulang ke rumah mereka. Benar-benar hari pertama sekolah yang menyenangkan!

****

SELASA YANG SERU

Inilah hari kedua Two Mell bersekolah. Sekarang, mereka sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Mereka memakai seragam olahraga dari rumah karena pelajaran pertama adalah pelajaran olahraga.

$$

“Ayolah, Mels. Apakah kamu sudah merapikan rambutmu?” tanya Melinda pada Melissa yang sedang membetulkan bandonya. Mels adalah panggilan singkat untuk Melissa.

“Iya, Meln. Kamu duluan saja. Itu, kunciranmu juga merosot,” Melissa menunjuk kunciran Melinda. Meln adalah panggilan singkat untuk Melinda.

“Ayo, Mels! Cepat! Waktunya sarapan! Ayo kita turun,” Melinda mengajak Melissa. Ya, mereka turun tangga karena rumah mereka bertingkat dua.

“Ya, Meln! Aku sudah siap! Come on !” sahut Melissa. Mereka segera turun tangga untuk sarapan. Mereka sarapan dengan nasi goreng.Wah, lahap sekali, ya, mereka makan!

“Hmm… Enak sekali nasi gorengnya! Sekarang aku sudah kenyang! Ayo, Meln, kita berangkat!” sahut Melissa pada Melinda yang sedang menyuap sesendok terakhir nasi gorengnya.

“Ya, Mels, tunggu sebentar! Aku pakai dulu sepatuku,” jawab Melinda sambil memakai sepatunya,”Ayo, Mels, ayo kita berangkat! Assalamu’alaikum, Bu, Yah!” Melinda mengucapkan salam.

“Assalamu’alaikum, Bu, Yah!” kata Melissa mengucapkan salam.

$$

Sesampainya di sekolah…

“Hei, friends! What are you doing ?” tanya Melinda pada teman-temannya. Ia memang sedang senang pada pelajaran Bahasa Inggris. Ia hanya senang sesekali saja.

“Kami hanya membicarakan nanti tentang latihan IPA, menurutku, itu sangat sulit! IPA yang menyebalkan!” dengus Fizah.

“Wah, menurutku IPA sangat seru! Untungnya, kita sudah belajar tadi malam,” tukas Melissa.

“Yeah, lumayan IPA tuh!” sahut Nida.

“Hei, Rina, Ana, dan Velicia mana?” tanya Melinda bingung.

“Velicia sih katanya ada urusan keluarga, Rina dan Ana belum datang,” jawab Fizah cepat.

“Oh, begitu, ya,” kata Melinda singkat.

“Eh, friends, itu Ana datang! Dia lagi ke parkiran sepeda!” tunjuk Melissa. Semua temannya menoleh ke arah parkiran sepeda.

“Ya, Melissa, dia sedang berjalan ke kita,” ujar Nida.

“Hello, teman-teman! Lagi ngapain?” tanya Ana sambil tersenyum.

“Hmm.. Kita lagi membicarakan IPA,” jawab Nida.

“Wah, IPA kan seru! Friends, kalian nggak suka?” sahut Ana.

“Cuma Two Mell yang suka, sama kamu,” jawab Fizah, ”aku nggak suka,”

“Aku tahu! Pasti Rina suka!” seru Ana, ”Tuh Rina datang,”

“Hai teman-teman! Lagi ngomongin latihan IPA ya?” tanya Rina.

“Eh kok kamu tau sih? Suka IPA ya?” tanya Nida.

“Yeah, aku saaa..ngat suka! Ada yang tidak suka?” sahut Rina.

“Aku!” Nida dan Fizah tunjuk tangan. Seperti menjawab pertanyaan dari guru, ya?

“Kenapa? IPA kan banyak praktek, kan asyik, kali!” ujar Rina.

$$

Kriingg… Bel masuk sekolah berbunyi. Semua anak berlari menuju ke kelasnya masing-masing. Rizky segera menyiapkan doa. Setelah diperintah Bu Erna, semua anak langsung menuju lapangan olahraga. Lapangannya besar sekali!

“Cihui… Lapangannya besar! Eh, guru olahraga kita siapa?” tanya Melissa.

“Gurunya Pak Arif, Mels, aku tahu dari Ana,” jawab Melinda.

“Anak-anak, ayo kita berkumpul di bagian Barat lapangan!” perintah Pak Arif pada murid kelas 4-A dan 4-B,”Ayo buat 4 barisan! 1 barisan putri 4-A, 1 barisan putri 4-B, 1 barisan putra 4-A, dan 1 barisan putra 4-B!” Semua anak langsung berbaris dengan tertib.

“Istirahat di tempat….. grak!” ujar Pak Arif, ”ya, anak-anak, materi untuk olahraga sekarang adalah sepak bola, jadi kita buat kelompok 6 orang-6 orang, tim putri 4-A melawan putra 4-B, tim putri 4-B melawan putra 4-A, ayo! Yang tidak kebagian bisa menjadi pemain cadangan,” kata Pak Arif panjang lebar sambil menjelaskan cara membagi kelompok.

“Wah, seru, nih! Siapa yang mau ikut?” seru Melinda.

“Yang mau cuma Ana, Rina, dan kamu,” jawab Melissa,”aku nggak mau ikut,”

“Kenapa, Mels?” tanya Melinda.

“Yah, Cuma menghabiskan tenagaku, Meln!” jawab Melissa sambil berjalan menuju tempat duduk lapangan.

“Fiuh… Ana, Rina, ayo! Kalian mau ikut kan?” sahut Melinda, ”ayo! Putri 4-B siapa lagi?”

“Itu, Ima dan Ita, kembar juga,” tunjuk Rina. Hehehe… Banyak juga, ya, yang kembar di kelas baru Two Mell!

“Satu orang lagi, nih! Siapa dong?” tanya Melinda kebingungan.

Semua anak hanya mau menjadi pemain cadangan. Waduh, gimana nih?

“Aku saja deh!” seru Nida, ”sebenarnya aku nggak mau, tapi demi 4-B aku mau deh!”

“Horee… Makasih Nida!” kata Melinda.

Akhirnya, sepak bola tim putri 4-B melawan tim putra 4-A dimulai juga. Seru, lho! Mau nonton? Nggak boleh! Hehehe….

Melinda sangat senang bisa ikut pertandingan ini. Walaupun bukan pertandingan sungguhan, tapi sangat seru lho!

Ima mengoper bola ke Nida. Bola direbut oleh Ridho, anak laki-laki 4-A. Melinda segera merebut bola yang ada di kaki Ridho dan mengoper ke Ita. Ita mengoper ke Ana. Ana mengoper ke Rina yang ada di depan gawang dan….. Ah! Bola direbut oleh Dodi, dioper ke Ridho, direbut oleh Ima, dioper ke Melinda, dioper ke Rina dan…. gool…! Skor 1-0 untuk tim putri 4-B….!

Priiiiiittt…. peluit berbunyi. “Anak-anak, ayo kita kembali ke sekolah…,” ajak Pak Arif.

“Horeee… Tim kita menang….!!” sorak Ana.

“Ya, terima kasih juga sih buat Rina, yang udah menjebol gawang…!” seru Melinda. Setelah itu, dia meneguk air minumnya.

“Hhh… Haus juga panas begini, mana capek lagi habis main bola…,” kata Melinda lagi, sambil mendesah pada teman-temannya.

“Yeee… Habis salah sendiri mau main bola, jadi kecapekan begitu deh,” kata Melissa pada Melinda.

“Eh, tapi seru, lho..! Materi minggu depan kan masih bola, bagaimana kalau kita main….??” sahut Melinda sambil mencolek lengan Melissa yang tertutup baju olahraga.

“Hmm.. Gimana ya? Kalau aku cukup energi, sih, aku mau aja..,” Melissa memikirkan minggu depan.

“Huu…. lebai deehh…..!!” sahut Melinda dkk. (kecuali Melissa dong!)

“Ya.. ya.. aku ikut deehhh….,” desah Melissa, ”hhhh…,”

“Yeesss…. bagus kalau begitu..!!” kata Melinda.

****

 LIBUR, ICE SKATING!

Hoorreee…. Baru saja dua hari sekolah, Two Mell sudah mendapat libur. Ya, hari Rabu ini, ada rapat guru di sekolah Two Mell. Two Mell berdiskusi saat jam 5 pagi, setelah sholat Subuh. Hmm.. Berdiskusi apa, ya?? Kita dengerin yuk! Oohh…. Ternyata mereka berdua sedang memikirkan tempat yang dituju untuk “liburan satu hari” ini.

“Mels, bagaimana kalau kita dirumah saja, ajak teman-teman, Rina, Nida, Fizah, Ana, dan Velicia?” usul Melissa.

“Jangan! Bagaimana kalau kita berenang, bareng teman-teman?” tawar Melinda. Mereka terdiam sejenak.

“Hei! Aku tahu! Bagaimana kalau kita main ice skating, bareng teman-teman di Ice Skating Center (ISC)?” ajak Melinda.

“Waah…. Ide bagus tuh! Aku mau, deh! Eh, kita mandi dulu, yuk, terus sarapan..!” seru Melissa.

“Yaa.. Ayo kita mandi! Hmm.. Dari sini kecium, lho, bau masakan enaaakk… banget..!” Melinda mencium bau masakan.

“Hmm.. iya, ya, seperti bau nassii.. goreennggg…..,” kata Melissa sambil melangkah ke kamar mandi dan mengambil handuknya.

“Aku kamar mandi kiri, ya..,” kata Melinda. Memang, di dekat kamar Two Mell ada dua kamar mandi, disebut “kamar mandi kanan” atau “kamar mandi kiri”.

“Ya, deeehhh….. Aku kamar mandi kanan yaaaa……,” Melissa mengiyakan.

Akhirnya, Melissa dan Melinda mandi di kamar mandi yang berbeda. Setelah mandi, mereka memakai pakaian mereka. Melissa memakai baju lengan se-siku warna merah muda dengan gambar beruang di tengahnya, dan legging setulang kering berwarna hitam. Sedangkan Melinda, dia memakai baju lengan pendek berwarna oranye-putih, dan celana panjang yang juga berwarna oranye tetapi warnanya lebih tua. Mereka juga membawa jaket dan sepatu ice skating.

“Meln, ayo ikat pita yang ada di bajumu! Ayo, cepat, aku sudah lapar, nih! Kamu juga lapar, kan?” ajak Melissa terburu-buru sambil menahan lapar.

“Ya, kamu duluan aja, Mels! Aku mau menguncir rambutku dulu,” Melinda “mengusir” Melissa.

“Iya, deh, aku tunggu, lho..,” Melissa mulai menuruni tangga untuk sarapan di bawah.

Melinda cepat-cepat mengikat pita pada bajunya, dan menguncir rambutnya dengan ikan rambut yang berbentuk jeruk berwarna oranye. Hmm… warna pakaian dan aksesoris Melinda serasi, ya!

“Hmm.. Lapar juga.. Nasi goreng…,” gumam Melinda sambil menuruni tangga.    Saat sampai di bawah, orangtua Two Mell, Kak Ina, dan Melissa sudah menunggu kedatangan Melinda sambil makan.

“Mmmmm…., Enyak ! Ayo cepat ikut makan, Meln! Nanti keburu habis nasi gorengnya!” seru Melissa sambil menyuap nasi gorengnya.

“Yaa… Aku juga makan deeehhhh….. Tapi tunggu aku, ya,” Melinda mulai menyuap nasi gorengnya dengan lahap. Hmm… Two Mell kelaparan, ya! Hihihi..

$$

“Velicia.. Main yuk!” Melissa memanggil Velicia ketika sampai di depan rumahnya. Mereka memakai sepeda untuk sampai ke rumah Velicia dengan cepat. Rumah Velicia memang paling dekat dengan rumah Two Mell.

“Oh ya, Velicia, kamu punya nggak sepatu ice skating ?” tanya Melissa pada Velicia yang baru keluar rumahnya.

“Oh, aku punya,” Velicia tersenyum manis, ”aku punya dua,”

“Wah, bagus! Kamu tunggu di rumahmu dulu, ya, kita mau panggil yang lain dulu,” kata Melinda.

“Rina… Main yuk!” Melinda memanggil Rina saat sampai di depan rumahnya.

“Yaa.. Ada apa?” tanya Rina.

“Kita main ice skating di ISC, yuk!” ajak Melissa.

“Hmm.. Oke, deh! Aku minta izin dulu ya, sama ibuku,” Rina masuk kembali ke dalam rumahnya.

“Itu, sepatu ice skating mu?” tanya Melinda saat Rina keluar kembali dari dalam rumahnya membawa sebuah sepatu ice skating berwarna abu-abu.

“I.. Iya. Eh, kita panggil yang lain, yuk! Pakai sepeda, ya,” ajak Rina.

Melissa, Melinda dan Rina pun memanggil teman-teman yang lain. Yaitu, Nida, Ana, dan Fizah. Saat berkumpul di rumah Velicia…

“Yaah.. Aku nggak punya sepatu ice skating …,” kata Fizah lesu.

“Pinjam aja sepatu ice skating ku ini, aku punya dua, kok,” Velicia menyodorkan salah satu sepatu ice skating-nya yang berwarna ungu muda.

“Benar, nih, nggak apa-apa?” Fizah tampak ragu.

“Iya, ayo kita berangkat ke ISC,” ajak Melissa.

Ketujuh anak itu pun berangkat menuju ISC. Mereka memakai sepeda masing-masing.

“Waahh.. Dingin.. Enak nih, mumpung diluar lagi panas..,” kata Ana.

“Ya, ayo kita ganti sepatu dulu, di kursi itu,” tunjuk Melinda pada kursi di pinggir lapangan ice skating. Setelah berganti sepatu, ketujuh anak itu mulai meluncur di lapangan ice skating.

“Cihuii.. Seru..!” sorak Nida.

“Yeeaa… Makasih ya, udah ngajarin aku ice skating, Melinda,” kata Fizah berterima kasih pada Melinda yang sudah mengajarinya bermain ice skating.

“Waahh…. Velicia sudah jago banget main ice skating nya..,” Melissa menunjuk Velicia yang sedang meluncur sambil berputar.

“Eh, nggak juga, kok.. Aku sudah lebih jago dari kalian karena waktu di Inggris dulu aku sering main ice skating dan latihan dengan ibuku,” Velicia tersipu.

“Eh, aku belajar berputar juga, dong, Velicia..,” pinta keenam temannya.

“Begini, iya, tahan keseimbangan! Ayo, iya, begitu,” Velicia sibuk memberi instruksi.

“Hooree…! Aku sudah bisa berputar…..!” sorak Ana gembira.

“Aku juga bisa!” seru Two Mell berbarengan.

“Aku jugaaaa…….,” kata Rina sambil berputar.

“Aku juga bisa, dong!” sahut Nida.

“Yaahh… aku belum bisa, kalian hebat,” kata Fizah lesu.

“Aku jarang ice skating, sih, sepatunya juga sudah rusak,” lanjut Fizah sambil meluncur ke kursi. Teman-temannya mengejar.

“Waahh… jangan begitu, dong, Fizah..,” kata Velicia mengejar Fizah untuk menghiburnya, ”kamu kan bisa belajar lagi,”

“Ya sudah deh, aku belajar lagi,” kata Fizah, ”tapi nanti lagi, ya, kita sudah 1 jam lebih disini, aku kedinginan,”

“Oke, deh, kita ganti sepatu dulu di kursi yang tadi,” jawab Ana.

Setelah berganti sepatu dan melepas jaket, ketujuh anak itu keluar dari ISC.

“Hmm… diluar panas juga, ya,” kata Rina.

“Ya sudah, kita ke warung itu dulu yuk, beli minuman,” tunjuk Melinda pada sebuah warung.

Setelah keluar dari warung…

“Aku dan Melinda membeli minuman dingin, lho,” tunjuk Melissa pada minumannya.

“Aku juga, doongg….,” kata kelima anak yang lain.

“Ayo, kita habiskan minuman kita dulu,” ajak Rina.

“Hmm… pengen juga ice skating lagi…,” kata Fizah.

“Hahaha…..,” tawa anak-anak yang lain.

“Tuh kan, ketagihan, hahaha!” kata Rina di sela-sela tawanya.

“Iya juga, sih, hehehe…,” Fizah tersipu malu.

****

PEMBAGIAN KELOMPOK

Setelah kemarin libur dan bermain ice skating, akhirnya hari ini masuk sekolah lagi. Two Mell berangkat sekolah bersama Velicia karena mereka berpapasan saat hampir sampai sekolah.

“Hei, kemarin seru banget ya, main ice skating nya,” kata Melinda membuka pembicaraan.

“Iya, nanti kalau libur sekolah lagi, kita main ice skating lagi, ya,” jawab Velicia senang.

Saat Melissa, Melinda, dan Velicia sampai di gerbang sekolah, bel masuk berbunyi. Kriinngg… Two Mell dan Velicia segera berlari menuju kelas mereka.

“Fiuh.. Untung kita nggak terlambat..,” kata Melissa lega.

“Ya, ayo kita duduk di tempat duduk kita,” kata Melinda.

Mereka mengeluarkan buku Matematika mereka dan menunggu guru mereka.

$$

Saat istirahat…

“Eh, pelajaran setelah istirahat, apa sih?” tanya Ana sambil menyeruput minumannya.

“Oh, itu, habis ini, sih, kayaknya IPS..,” jawab Melissa sambil meminum milkshake nya. Glek.. Glek..

“Eh, kita di dalam kelas saja, yuk, kayaknya sebentar lagi masuk,” kata Rina.

“Eh, ayo, yuk,” jawab Ana.

Di dalam kelas…

“Kita belajar dulu, yuk, IPS nya,” kata Melissa.

“Ayo!” jawab Melinda semangat. Yang lain juga setuju untuk belajar bersama.

Akhirnya ketujuh anak-anak itu belajar. Kriinngg… Bel masuk istirahat berbunyi. Mereka kembali ke tempat duduk masing-masing, untuk siap-siap belajar. Setelah itu, mereka belajar Bahasa Inggris yang kadang-kadang disukai Melissa.

Sepulang sekolah…

“Eh, Mels, jadwal seragamku hilang,” kata Melinda saat hampir sampai rumah. Mereka memang membuat jadwal seragam agar mereka tidak lupa seragam sehari-hari mereka. Mereka kan, baru 4 hari bersekolah di SD Tunas Bangsa 2…

“Sama, dong! Kita bikin lagi yang baru, yuk!” ajak Melissa.

Sesampainya di rumah, mereka berdua segera mengambil 2 kertas HVS, gunting, dan selotip di ruang keluarga. Lalu, mengambil hiasan di kamar. Mau tahu jadwal seragam mereka? Yuk kita lihat!:

Senin: Kemeja putih polos dan rok panjang kotak-kotak biru.

Selasa: Baju olahraga, ganti kemeja putih polos, rok panjang kotak-kotak hijau dan rompi hijau.

Rabu: _________

Kamis: Kemeja putih polos, rok panjang kotak-kotak hijau dan rompi hijau.

Jum’at: Kemeja putih polos dan rok panjang kotak-kotak biru.

Sabtu: Seragam pramuka.

Akhirnya mereka berdua selesai membuat jadwal seragam. Fiuh… Capeknya! Eh, Sekolah mereka itu memakai rok panjang ke sekolah! Tetapi, lengan kemejanya boleh panjang ataupun pendek. Setelah itu, mereka berdua menempel jadwal seragam mereka di dinding kamar. Sebelumnya, dihias dulu, dong!

“Mels, capek ya! Kita istirahat dulu, yuk!” ajak Melinda.

“Iya, ya! Ayo, kita istirahat dulu, sambil main scrabble !” sahut Melissa.

Srabble? Ayo!” kata Melinda sambil menggandeng tangan Melissa ke kasur.

Mereka asyik sekali bermain scrabble, sampai mereka lupa waktu makan siang. Hihihi… Mereka sampai ketiduran lho, di kasur!

“Melissa.. Melinda.. Ayo, bangun! Kalian berdua belum makan siang,” kata ibu Two Mell membangunkan Melissa dan Melinda.

“Hoahhmmm… Bentar dulu dong, Bu! Masih ngantuk!” jawab Melissa sambil tidak sengaja menendang mainan scrabble didekatnya dengan kaki sampai terjatuh ke kolong kasur.

“Aduh.. Melissa… ayo, kalian kan belum makan siang.. Nanti kalian bisa sakit maag lho..,” kata ibu Two Mell sambil membereskan mainan scrabble Melissa dan Melinda.

“Hoahhmm.. ya sudah deh Bu.. ayo Mels, bangun!” kata Melinda sambil menarik tangan Melissa.

“Ya sudah deh.. ayo Meln!” jawab Melissa sambil mengucek matanya.

“Nah, gitu, dong, Anak-Anak! Ibu sudah siapkan makanan kesukaan kalian, nasi goreng.. Ayo, cepat ke bawah ya..” ajak Ibu Two Mell.

“Wah.. asyik.. nasi goreng! Ayo Meln, kita lomba turun tangga ke bawah! Satu, dua, tiga..!” kata Melissa sambil mulai menuruni tangga dengan berlari. Kantuknya sudah hilang 100 persen.

“Ayo, siapa takut!” jawab Melinda sambil berlari menuruni tangga. Tetapi tetap hati-hati, lho!

$$

Besoknya, di sekolah Two Mell, saat pelajaran Bahasa Indonesia, ada pembagian kelompok untuk mengerjakan tugas kelompok.

“Ya, Anak-Anak.. Seperti yang sudah diumumkan sebelumnya, hari ini di kelas kita ada pembagian kelompok. Ibu sudah membagi kelompoknya, yang terbagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama, Andi, Reza, Intan, Ikhsan, Hilda, Ali, Farid, Ima, dan Ita. Kelompok kedua, Inna, Melinda, Melissa, Ridho, Dodi, Rina, Nida, Rizky, dan Killa. Kelompok ketiga, Ana, Hafizah, Velicia, Ade, Rifqi, Dinda, Dodo, Naufal, dan Lily. Anak-Anak, silakan bergabung dengan kelompoknya untuk membahas soal-soal ini,” kata Bu Neti sambil menunjukkan selembar kertas berisi soal-soal tugas kelompok.

“Yahh.. Kenapa sih harus sama si ketua kelas caper itu, sih?” keluh Killa.

“Yaaa… Sudah takdir, Killa…,” canda Melissa.

“Aku juga sebenarnya nggak mau sekelompok sama si caper itu,” kata Melinda.

“Heeii… Pada ngomongin aku, ya??” kata Rizky.

“Nggak, kok! Mana kertas tugasnya?” Inna balik bertanya.

“Iniiii…!” seru Nida  sambil berlari.

“Ya sudah, daripada ngomong yang nggak-nggak, lebih baik kita kerjakan tugas ini,” ajak Ridho.

“Ayo!” sahut yang lain serempak.

Mereka pun mengerjakan tugas mereka. Sesekali terdengar ada yang tertawa, marah-marah, bahkan ada yang hampir menangis. Kenapa, ya? Hihihi…

$$

“Hoaaahhmmm… Ngantuk, nih, Meln!” kata Melissa sambil menguap.

“Aku belum ngantuk, tuh! Kalau kamu ngantuk, tidur saja!” kata Melinda cuek sambil membuka laptopnya (Laptop itu dibelikan oleh ibu mereka berdua, untuk dimainkan berdua).

“Kamu ngapain buka laptop? Mau main game ya?? Kan selama bulan ini kita dilarang main game…,” kata Melissa mengingatkan Melinda saat melihat Melinda membuka laptop.

“Nggak, tuh! Aku mau ngerjain tugas, kamu kan kemarin sudah,” kata Melinda sambil mulai mengetik.

“Ya sudah deh, hoahhmmm… Aku tidur duluan ya,” Melissa mulai memejamkan matanya.

“Ya sudah, selamat tidur, ‘hoahm’,” kata Melinda sambil mengejek Melissa. Tetapi Melissa tidak menanggapi apa-apa karena ia sudah tertidur. Hihihi…

****

 ANAK MISTERIUS

“Hai, sudah mengerjakan tugas, belum?” sapa Ana saat berpapasan dengan Two Mell.

“Sudah, dong! Ternyata, tugasnya mudah sekali, ya! Untungnya, aku sudah mengerjakan empat hari yang lalu…,” Melissa melirik Melinda, menyindir.

“Huh!” Melinda cemberut. Ia merasa tersindir karena baru saja mengerjakan tugasnya 2 hari yang lalu.

Kringgg…. Bel masuk sekolah pun berbunyi. Two Mell dan Ana segera berlari menuju sekolah mereka. Kalau terlambat, bisa dihukum, nih!

Setelah berdoa dan mengumpulkan tugas, Two Mell dan kawan-kawan mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru mereka. Entah kenapa, mereka merasa harus cepat mengerjakan soal itu.

“Kamu sudah mengerjakan nomor berapa saja?” kata Melissa kepada Melinda. Tetapi sambil berbisik dong, supaya tidak ketahuan Bu Erna.

“Nomor 12… Sedikit lagi nih..,” Jawab Melinda tanpa menoleh sedikit pun kepada Melissa, tetapi tentunya dengan berbisik juga.

Kringg…. Bel istirahat pun berbunyi. Anak-anak yang sudah selesai mengerja-kan tugas, segera mengumpulkannya dan menghambur keluar kelas. Ada yang ke kantin, bermain bola, bermain petak umpet, dan berbagai permainan lainnya. Ada juga yang hanya duduk-duduk saja di kelasnya sambil mengobrol.

“Teman-teman, kita adu main basket, yuk!” ajak Velicia saat ia melihat sebuah bola basket tergeletak begitu saja di lapangan.

“Ayo!” Rina, Fizah, dan Melissa serempak mengiyakan. Sebenarnya, Fizah tidak bisa bermain basket, tetapi ia ingin sekali bermain basket.

“ Huh… Baiklah…..,” Melinda dan Ana akhirnya mengiyakan.

Mereka pun akhirnya bertanding basket. Mereka mempunyai tim masing-masing. Tim Melissa, yaitu: Melissa, Rina, dan Velicia. Sedangkan tim Melinda, yaitu: Melinda, Fizah, dan Ana. Mereka bertanding basket dengan seru sekali, tetapi akhirnya permainan diakhiri karena ada perdebatan antara kedua tim itu. Kemenangan juga diakhiri dengan skor 4-2 untuk kemenangan tim Melissa.

“Huh! Tim Melissa sudah pasti menang, dong! Disana kan, dia dan Velicia sudah jago bermain basket..!!! Rina kan juga bisa bermain basket..!” marah Melinda. Hatinya terasa sangat kesal. Tidak seperti biasanya dia begini.

“Ya sudah, Kita akhiri saja adu basket ini! Jangan ada yang bertengkar!” seru Ana dengan keras. Dia cemberut. Ia paling tidak suka dengan perdebatan.

“Katakan saja, kamu pasti iri kan dengan tim kita?! Bawaanmu pasti selalu ingin menang!!” Melissa berkacak pinggang.

“Siapa bilang? Aku bukan iri dengan kalian, tetapi ini tidak adil! Tim kalian semuanya jago bermain basket, tetapi tim kita bahkan jarang bermain basket….!!” lanjut Melinda. Ia melipat tangannya.

“Sudah… jangan berteng…,” Perkataan Fizah terputus. Ia lalu menoleh ke arah kirinya dengan cepat. Seketika, ia menampakkan wajah terkejut dan takut.

“Ada apa, Zah?” tanya Velicia heran. Ia lalu menoleh ke arah yang sama dengan Fizah.

“It..Itu…,” Fizah menunjuk ke arah semak-semak di samping lapangan. Semua temannya menjadi takut.

“Aduh, Fizah.. Ceritakan, dong, tadi kamu melihat apa?” Ana penasaran.

“ Tad.. Tadi… Aku mel.. melihat ada seseorang di balik semak-semak itu,” Fizah menunjuk kearah semak-semak kembali.”Tetapi dia bukan murid sekolah ini, karena dia tidak memakai seragam sekolah,” jelas Fizah. Ia sudah agak tenang.

Two Mell dan Rina juga penasaran. Mereka akhirnya mendekati Fizah. Mereka ingin memeriksa semak-semak yang ditunjuk-tunjuk Fizah, tetapi…

Kringgg…!! Two Mell dan kawan-kawan terkejut. Mereka akhirnya berlari ke kelas mereka dengan rasa penasaran yang hebat.

“Duhh… Yang dilihat Fizah tadi apa, ya..?” bisik Melissa kepada Melinda saat sedang mengerjakan ulangan harian Matematika. Rasa kesalnya sudah mulai hilang, dan digantikan dengan rasa penasaran.

“Mungkin hantu,” jawab Melinda asal-asalan karena ia sedang serius mengerjakan soal. Ia memang tidak terlalu jago pada pelajaran matematika, sehingga ia harus serius mengerjakan soal-soalnya. Tidak seperti Melissa dan Nida yang jago pelajaran matematika.

“Yaaahhh.. Ya sudah deh… Nanti setelah mengerjakan ulangan, ya,” bisik Melissa lagi, lalu kembali mengerjakan tugasnya.

$$

Kriiiinnnngg…..

“Yaaaahhhh…. Bel pulang, deh.. Padahal aku penasaran, lho,” kata Melissa pada Melinda sambil menggendong tasnya.

“Iya, nih, aku juga penasaran, deh,” jawab Melinda sambil membereskan bukunya.

“Besok kita selidiki, yuk!” sahut Ana yang tiba-tiba datang. Ia jadi seperti hantu, yang bisa tiba-tiba datang. Ternyata ia juga penasaran dengan yang dilihat Fizah tadi di lapangan.

“Ayo! Eh, ayo, Melinda, cepat! Katanya ibu punya kejutan untuk kita, lho!” seru Melissa. Ia menarik tangan Melinda.

“Oh ya? Ya sudah deh, kita duluan, ya, Ana!” kata Melinda sambil melambaikan sebelah tangannya kepada Ana.

Sesampainya di rumah…

“HAPPY BIRTHDAY..!!!” seru orang-orang yang berada di dalam rumah ketika Two Mell membuka pintu. Two Mell sangat terkejut. Mereka lupa bahwa hari ini adalah ulang tahun mereka. Ya, mereka memang berulang tahun pada tanggal 9 Desember, hari ini. Hari ini adalah hari ulang tahun mereka yang ke-10.

Two Mell segera masuk ke dalam rumahnya. Di dalam, ada banyak saudaranya yang datang. Ada Runi, Nani, dan Rida, saudara Two Mell yang sangat dekat. Ada Rifa juga, saudara barunya yang menggemaskan. Disebut saudara baru, karena ia baru lahir sebulan yang lalu. Wah, Rifa imut sekali, lho!

$$

Kriinnggg… Bel masuk sekolah berbunyi. Semua anak SD Tunas Bangsa 2 segera masuk ke kelasnya masing-masing. Begitu juga Two Mell, mereka masuk ke kelasnya dengan wajah berseri-seri.

“Waaaahh… Tas baru, nih..,” kata Fizah sambil berjalan ke meja Two Mell. Biasanya, hampir semua anak di kelas Two Mell bermain-main atau mengobrol dahulu sambil menunggu kedatangan guru mereka.

“Iya, nih… Bagus banget lho..,” Ana ikut “ngerumpi”. Fizah tertawa. Two Mell memang memakai tas baru ke sekolah hari ini, yang diberikan oleh Om ___, ayah Rifa, sebagai kado ulang tahun.

“Makasih, ya, Fizah, Ana… Tas ini diberikan oleh omku, kemarin,” jelas Melissa.

Kreeekk… Pintu kelas 4-B terbuka. Tampaklah seorang guru berkerudung abu-abu dan berbaju putih, yaitu Bu Erna, dan seorang anak perempuan yang cantik dan kelihatannya pemalu, tetapi bajunya sudah agak kumal.

“Assalamu’alaikum, Anak-Anak…, selamat pagi!,” sapa Bu Erna seperti biasanya, lalu semua anak langsung menjawab. “Sekarang kita kedatangan murid baru, yang akan memperkenalkan diri di depan kelas, ayo masuk, Rania!” kata Bu Erna lagi sambil menarik pelan tangan anak itu.

“Per… Perkenalkan, nama saya Rania Maulida ___, biasa dipanggil Rania atau Lida. Saya tinggal di gang melati nomor 11, bersama ibu saya,” kata anak itu memperkenalkan diri. Oh, ternyata nama anak perempuan itu Rania, nama yang bagus. Tetapi, sepertinya ada yang sudah pernah melihat wajah anak itu.

****

 TAMBAH LAGI!

Sore ini, Two Mell dan kawan-kawan berniat mengunjungi rumah Rania. Yah, hitung-hitung tambah rumah untuk numpang bermain, hehehe…

Saat sampai di rumah Rania, mereka terkejut. Mereka melihat rumah bercat putih yang sangat minimalis dihadapan masing-masing. Maksudnya masing-masing, karena mereka sedang berdiri berdampingan. Oh ya, pintu di rumah itu sudah agak rapuh. Sekali di dorong secara paksa saja, mungkin sudah roboh. Uh… Rumah yang memprihatinkan. Hmm… sepertinya ini bukan rumah Rania, deh.

“Hai, Teman-Teman! Selamat datang dirumahku!” tiba-tiba seorang anak perempuan muncul dari balik pintu rumah itu. Oh, ternyata itu Rania! Semua temannya langsung terkejut.

“Eh, maaf, kami hanya ingin mengunjungi rumahmu, kok. Mengganggu, ya? Kalau iya, lebih baik kami pulang saja,” kata Melissa sedikit asal-asalan karena masih terkejut.

“Nggak apa-apa, kok, aku juga sedang bermain sendirian di rumah. Silakan masuk! Kalian mau menemaniku bermain, kan?” kata Rania mempersilakan masuk.

Setelah masuk, Two Mell dan teman-teman memandang sekeliling isi ruangan. Hmm… tampak biasa-biasa saja. Tidak banyak barang-barang, yang terlihat hanya barang-barang yang diperlukan saja. Tidak seperti Two Mell dan kawan-kawan, di rumah mereka ada saja barang yang tidak diperlukan.

“Kita mau main apa, nih?” tanya Fizah sambil masih memandang sekeliling ruangan.

“Kalian suka bermain boneka, nggak? Aku punya beberapa boneka, lho, tapi mungkin agak aneh untuk kalian,” Rania bertanya balik.

“Nggak apa-apa, kok, ayo kita main! Hmmm… Tapi kita mau main dimana, nih?” Melinda memandang sekeliling ruangan lagi.

“Disana, yuk!” Rania menunjuk sebuah ruangan yang pintunya tertutup, yang sepertinya itu kamarnya. Setelah masuk, mereka melihat sebuah kotak kardus kecil di sudut ruangan. Dari kotak itu terlihat sebuah tangan boneka kecil yang agak sedikit sobek. Rania langsung berjalan mengambil kotak itu.

“Ini bonekanya, teman-teman,” Rania membagikan boneka-bonekanya,”maaf ya kalau agak aneh,”

Ana memandang heran boneka yang ia dapat. Boneka itu seperti bonekanya yang ia buat bersama saudaranya beberapa tahun lalu. Tetapi, saudaranya itu bukan Rania.

“Iya, sih, agak aneh… Tapi kreatif lho, aku saja tidak bisa,” Velicia memuji boneka Rania yang ia dapat. Badan boneka yang ia dapat, sudah ada tiga tambalan dari kain yang salah satunya sudah sobek lagi. Dakron di dalam badannya saja sudah menyembul dari balik kain tambalan sobek itu. Duh… Sepertinya Velicia ingin belajar untuk menambal kembali dengan kuat boneka itu.

“Yuk, kita mulai main! Kalian tentukan dahulu ya, rumah boneka kalian..,” seru Rania memecah keheningan.

Saat boneka mereka semua sampai di sebuah taman mainan, tiba-tiba Rania berbicara dengan pelan dan malu-malu, ”Teman-Teman, kalian mau kan jadi teman baikku? Sudah lama aku mengharapkan ada yang menjawab ‘iya’ dari pertanyaanku itu…,”

Melinda terkejut, tetapi tanpa bersuara. Seketika, ia langsung menatap wajah Rania dan teman-temannya secara bergantian. Teman-temannya juga begitu (Tentunya Rania tidak termasuk, dong!).

Dengan yakin Melinda menjawab, “Iya!” Lalu, Rania langsung bersorak gembira, lalu ia memeluk Melinda.

“Terima kasih, ya, teman-teman baruku! Kalian memang sangat baik. Kalian juga mau menerimaku sebagai teman baik kalian. Aku tidak akan mengkhianati kalian, teman-teman! Terima kasih banyak,” kata Rania sambil melepaskan pelukannya pada Melinda.

Besoknya, di sekolah, atau lebih tepatnya di kelas Two Mell dan kawan-kawan, terjadi “sesuatu” yang berbeda dari biasanya. Rania, yang awalnya sangat pendiam, sekarang sedang tertawa terbahak-bahak bersama Two Mell dan teman-temannya. Akhirnya, berpuluh-puluh pasang mata terpaku pada pemandangan itu. Tetapi, tak terlalu lama.

“Lho, kenapa, tuh? Ada yang aneh deh kayaknya…,” bisik Killa kepada Lily.

“Siapa, sih, itu? Rania, bukan? Kok, dia gitu? Biasanya kan dia baca buku-buku tebal…,” bisik beberapa anak di kelas mereka heran.

“Hai teman-teman! Kesini, dong! Jangan bengong aja! Sini, cerita Ana lucu banget, deh!!! Hahaha…!!” seru Rania ceria pada teman-teman sekelasnya. Tetapi, tak ada yang mengacuhkannya. Hampir semua anak langsung pergi meninggalkan kelas, karena saat itu memang sedang jam istirahat. Karena tak ada yang mengacuhkan, Rania langsung kembali bercanda dengan teman-teman “dekat” barunya.

“Jadi, sahabat kita sudah bertambah lagi!” seru Melinda di sela-sela candanya.

“Iya, Tambah Lagi! Hahahaha……………!!” ulang Melissa sambil tertawa.

****

PEMBAGIAN RAPORT
          “Duuuhhh… Gimana, ya, nilai raportku nanti?” gumam Melinda.

“Terima aja apa adanya, Meln,” jawab Melissa datar. Ia sempat mendengar gumaman Melinda tadi.

“Iya sih… Tapi nilaiku lumayan banyak yang jelek-jelek… Aku kan juga di-remedial untuk pelajaran ___ sama ___,” kata Melinda dengan raut wajah sedih.

“Aku sih nggak ada,” kata Melissa sambil memasang kancing pada celana jeans-nya, lalu mengikat tali pada baju pink-nya dengan rapi.

“Kamu kan sudah benar-benar pintar,” kata Melinda tanpa menoleh pada Melissa. Setelah mengikat pita pada baju oranye kesayangannya, ia lalu berjalan menyusuri tangga.

“Huh!” kata Melissa kesal. Setelah menguncir dua rambutnya, ia berjalan ke tangga juga. Oh iya, Two Mell memakai pakaian yang rapi karena mereka akan ikut ibunya ke sekolah, untuk mengambil raport mereka.

Sesampainya di sekolah Two Mell…

“Hai Rina! Kamu juga ikut mengambil raport-mu?” tanya Melissa ceria.

“Iya! Tetapi aku nggak ikut ke kelas, soalnya aku mau jajan,” jawab Rina sambil tersenyum, lalu memperlihatkan kantong plastik jajanannya.

“Eh, kita ke kelas yuk! Kamu mau nggak?” ajak Melinda sambil melihat ibunya mulai berjalan menjauhi mereka.

“Ayo, deh! Siapa tahu ibuku sudah selesai mengambil raport-ku,” Rina menggandeng tangan Two Mell.

Ternyata dugaan Rina salah. Ibunya masih menunggu beberapa giliran lagi. Yang lebih parah, seorang ibu-ibu tengah asyik mengobrol dengan wali kelas Two Mell dan Rina.

“Aduuuhhh… Masih lama, nih, kita main diluar dulu, ya! Ibu, kita mau main di luar ya, Bu!” kata Melissa.

“Yaudah, deh! Ayo!” jawab Rina. Melinda mengangguk.

“Kita main apa, nih?” tanya Melinda bingung ketika mereka sudah sampai di lapangan.

“Main petak umpet, yuk!” jawab Rina. “Gambreng! Melinda jadi!” Setelah menebak jari dan benda, Melinda pun menghitung lambat dari 1 sampai 20.

“18… 19… 20! Sudah sembunyi?” tanya Melinda sambil membuka matanya. Ia tidak mendengar suara Melissa ataupun Rina, karena mereka memang sudah bersembunyi. Melinda menoleh kesana kemari, lalu mulai berjalan memeriksa tempat-tempat tersembunyi.

“Melissa ketemu! Hahaha…!!” kata Melinda sambil berlari menuju benteng. Melissa pun keluar dari tempat persembunyiannya, yaitu dibalik semak-semak. Melinda pun berjalan menuju pot bunga yang terbuat dari semen, yang kira-kira setinggi anak-anak yang sedang berjongkok. Disana tersembul baju dan sepatu sandal berwarna biru muda milik Rina. Melinda langsung bersorak,

“Rina ketemu juga!!” Melinda dan Rina lalu berlomba menuju benteng, tetapi Melinda lebih cepat karena ia memang lumayan cepat larinya dibandingkan dengan Rina.

“Ayo, acak nomor! Hei, Velicia! Kesini, dong!” seru Melinda saat ia menoleh ke sebelah kirinya. Rina dan Melissa juga langsung menengok. Wajah Velicia yang terlihat muram membuat Two Mell dan Rina menjadi heran. Apalagi sikap Velicia yang tidak mengacuhkan mereka membuat Two Mell dan Rina menjadi semakin bingung.

“Kamu kenapa, Velicia?” tanya Melissa penasaran sambil mengikuti Velicia menuju ke kelas mereka. Melissa akhirnya sampai di samping Velicia dan berhasil meraih lengannya.

“Kalian akan tahu nanti!” kata Velicia sinis tanpa menoleh sedikit pun pada Melissa. Ia melepaskan tangan Melissa lalu berjalan lebih cepat mengejar ibunya.

Melissa, Melinda, dan Rina terheran-heran melihat sikap Velicia yang berbeda dari biasanya. Melissa bahkan tampak seperti patung ketika belum disadarkan oleh ibunya.

“Melissa, Melinda, ayo, kita pulang! Lho, kok malah bengong!” kata ibu Two Mell sambil menepuk pundak Melissa. Melissa pun tersadar dan mulai berjalan dengan digandeng ibunya. Tetapi tatapan matanya tidak terlepas dari Velicia yang sedang asyik bermain hp didalam kelasnya. Tampaknya itu hp baru. Tiba-tiba, Velicia menoleh pada Melissa, lalu langsung menoleh lagi pada hp barunya itu. Melissa pun terkejut dan tidak lagi menatap tajam Velicia, tetapi melambaikan tangan pada Rina dan pamit dari jauh.